Selasa, 18 Januari 2011

Potensi Agroindustri Tanaman Aren

Pengertian Agroindustri
Agroindustri adalah kegiatan yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang dan menyediakan peralatan serta jasa untuk kegiatan tersebut. Secara eksplisit pengertian Agroindustri pertama kali diungkapkan oleh Austin (1981) yaitu perusahaan yang memproses bahan nabati (yang berasal dari tanaman) atau hewani (yang dihasilkan oleh hewan). Proses yang digunakan mencakup pengubahan dan pengawetan melalui perlakuan fisik atau kimiawi, penyimpanan, pengemasan dan distribusi. Produk Agroindustri ini dapat merupakan produk akhir yang siap dikonsumsi ataupun sebagai produk bahan baku industri lainnya. Agroindustri merupakan bagian dari kompleks industri pertanian sejak produksi bahan pertanian primer, industri pengolahan atau transformasi sampai penggunaannya oleh konsumen. Agroindustri merupakan kegiatan yang saling berhubungan (interlasi) produksi, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan, pendanaan, pemasaran dan distribusi produk pertanian.
Dari pandangan para pakar sosial ekonomi, agroindustri (pengolahan hasil pertanian) merupakan bagian dari lima subsistem agribisnis yang disepakati, yaitu subsistem penyediaan sarana produksi dan peralatan. usaha tani, pengolahan hasil, pemasaran, sarana dan pembinaan. Agroindustri dengan demikian mencakup Industri Pengolahan Hasil Pertanian (IPHP), Industri Peralatan Dan Mesin Pertanian (IPMP) dan Industri Jasa Sektor Pertanian (IJSP).
Profil Tanaman Aren
Pohon enau mudah tumbuh. Memiliki asal-usul dari wilayah Asia tropis, enau diketahui menyebar alami mulai dari India timur di sebelah barat, hingga sejauh Malaysia, Indonesia, dan Filipina di sebelah timur. Di Indonesia, enau tumbuh liar atau ditanam, sampai ketinggian 1.400 m dpl.. Biasanya banyak tumbuh di lereng-lereng atau tebing sungai.
Meskipun getahnya amat gatal, buah enau yang masak banyak disukai hewan. Musang luwak diketahui sebagai salah satu hewan yang menyukai buah enau ini, dan secara tidak langsung berfungsi sebagai hewan pemencar biji enau. Di Bangka, pada masa lalu orang-orang Tionghoa memasang perangkap di bawah pohon enau yang tengah berbuah, untuk menangkap rombongan babi hutan yang berpesta buah enau yang berjatuhan.
Enau atau aren (Arenga pinnata, suku Arecaceae) adalah palma yang terpenting setelah kelapa (nyiur) karena merupakan tanaman serba guna. Tumbuhan ini dikenal dengan pelbagai nama seperti nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan Semenanjung Malaya); kawung, taren (Sd.); akol, akel, akere, inru, indu (bahasa-bahasa di Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuwak (di Nusa Tenggara), dan lain-lain. Bangsa Belanda mengenalnya sebagai arenpalm atau zuikerpalm dan bangsa Jerman menyebutnya zuckerpalme. Dalam bahasa Inggris disebut sugar palm atau Gomuti palm.
Palma yang besar dan tinTeks ini akan dicetak tebalggi, dapat mencapai 25 m. Berdiameter hingga 65 cm, batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk, injuk, juk atau duk. Ijuk sebenarnya adalah bagian dari pelepah daun yang menyelubungi batang.
Daunnya majemuk menyirip, seperti daun kelapa, panjang hingga 5 m dengan tangkai daun hingga 1,5 m. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputih-putihan oleh karena lapisan lilin di sisi bawahnya.
Berumah satu, bunga-bunga jantan terpisah dari bunga-bunga betina dalam tongkol yang berbeda yang muncul di ketiak daun; panjang tongkol hingga 2,5 m. Buah buni bentuk bulat peluru, dengan diameter sekitar 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga, [2] tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna hijau sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal.

Pengembangbiakan Tanaman Aren

Enau atau aren dapat dikembang biakkan secara generatif yaitu melalui bijinya. Agar diperoleh keturunan yang baik, benih sebaiknya diambil dari pohon induk yang memiliki kriteria sebagai berikut :
1. Batang pohon harus besar dengan pelepah daun merunduk dan rimbun. Sampai saat ini dikenal dua macam tanaman aren yaitu Aren Genjah yang memiliki batang agak kecil dan pendek dengan produksi nira antara 10–15 liter/tandan/hari, dan Aren Dalam yang memiliki batang besar dan tinggi dengan produksi nira 20–30 liter/tandan/hari. Untuk kepentingan produksi nira dan turunannya, dianjurkan untuk menggunakan varietas Dalam sebagai pohon induknya.
2. Pohon terpilih harus memiliki produktivitas yang tinggi. Perlu diketahui bahwa tidak semua pohon aren dan tidak semua mayang (tandan bunga) jantan yang keluar (9 – 11 mayang) menghasilkan nira. Hal ini sangat dipengaruh oleh proses fisiologi tanaman. Calon pohon induk perlu diperiksa produktivitasnya dengan menyadap nira dari mayang jantan pertama atau kedua; jika hasilnya banyak maka pohon itu pantas dijadikan pohon induk. Kemudian pohon induk ini tidak lagi disadap niranya, agar kualitas benih yang dihasilkan tetap baik.

Selanjutnya tahapan penyediaan bibit tanaman aren adalah sebagai berikut:

1. Pengumpulan buah
Buah yang digunakan sebagai sumber benih harus matang, sehat yang ditandai dengan kulit buah yang berwarna kuning kecoklatan, tidak terserang hama dan penyakit dengan diameter buah ± 4 cm. Sebaiknya buah yang diambil adalah yang terletak di bagian luar rakila. Buah aren ini dapat disimpan selama 2 minggu pada karung plastik atau dus untuk memudahkan pemisahan biji (benih) dari kulit.

2. Pengambilan biji dari buah
Pengambilan biji dari dalam buah aren harus menggunakan sarung tangan karena buah aren mengandung asam oksalat yang akan menimbulkan rasa gatal apabila kena kulit. Cara lain, yaitu dengan memeram buah-buah aren yang telah dikumpulkan sampai kulit buah menjadi busuk sehingga biji terpisah dengan sendirinya dari daging buah. Dengan cara ini, biji dapat diambil dengan mudah dan kulit buah aren tidak gatal lagi.

3. Perkecambahan
Benih disemaikan dalam tempat persemaian dengan media campuran pasir dan serbuk gergaji dengan perbandingan 2:1. Untuk mempercepat perkecambahan, tempurung biji dapat digosok dengan kertas pasir (ampelas) di bagian punggungnya, tempat keluar apokol, selebar kira-kira 3 mm kemudian biji direndam dalam air agar air meresap ke dalam endosperm sampai jenuh, lalu disemaikan. Benih disiram setiap hari untuk mempertahankan kelembaban yang tinggi sekitar 80%.

4. Pembibitan
Semai aren yaitu setelah terbentuk apokol yang telah mencapai panjang 3 – 5 cm dipindahkan ke tempat pembibitan atau ke dalam kantong plastik (polibag) yang berdiameter 25 cm, yang telah diisi ¾ bagiannya dengan tanah-tanah lapisan atas yang dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:2. Bibit-bibit yang telah dipindahkan ini memerlukan penyiraman dan naungan agar terhindar dari cahaya matahari secara langsung. Bibit aren dapat dipindahkan (ditanam) ke lapangan setelah berumur 6-8 bulan sejak daun pertama terbentuk.
Hasil dari Tanaman Aren
Pohon enau menghasilkan banyak hal, yang menjadikannya populer sebagai tanaman yang serbaguna, terutama sebagai penghasil gula.
Nira dan gula

Gula aren diperoleh dengan menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan serbuk sari yang berwarna kuning. Tandan ini mula-mula dimemarkan dengan memukul-mukulnya selama beberapa hari, hingga keluar cairan dari dalamnya. Tandan kemudian dipotong dan di ujungnya digantungkan tahang bambu untuk menampung cairan yang menetes.
Cairan manis yang diperoleh dinamai nira (alias legen atau saguer), berwarna jernih agak keruh. Nira ini tidak tahan lama, maka tahang yang telah berisi harus segera diambil untuk diolah niranya; biasanya sehari dua kali pengambilan, yakni pagi dan sore.
Setelah dikumpulkan, nira segera dimasak hingga mengental dan menjadi gula cair. Selanjutnya, ke dalam gula cair ini dapat dibubuhkan bahan pengeras (misalnya campuran getah nangka dengan beberapa bahan lain) agar gula membeku dan dapat dicetak menjadi gula aren bongkahan (gula gandu). Atau, ke dalam gula cair ditambahkan bahan pemisah seperti minyak kelapa, agar terbentuk gula aren bubuk (kristal) yang disebut juga sebagai gula semut. Gula hasil olahan dari aren juga biasa digunakan sebagai bahan campuran kecap manis, gula merah sebagai komponen utama pembuatan kecap digunakan dalam jumlah lebih dari 60 % bahan.
Di banyak daerah di Indonesia, nira juga biasa difermentasi menjadi semacam minuman beralkohol yang disebut tuak atau di daerah timur juga disebut saguer. Tuak ini diperoleh dengan membubuhkan satu atau beberapa macam kulit kayu atau akar-akaran (misalnya kulit kayu nirih (Xylocarpus) atau sejenis manggis hutan (Garcinia)) ke dalam nira dan membiarkannya satu sampai beberapa malam agar berproses. Bergantung pada ramuan yang ditambahkan, tuak yang dihasilkan dapat berasa sedikit manis, agak masam atau pahit.

Dengan membubuhkan bahan yang lain, atau dengan membiarkan begitu saja selama beberapa hari, nira dapat berfermentasi menjadi cuka. Cuka dari aren ini kini tidak lagi populer, terdesak oleh cuka buatan pabrik.
Nira mentah (segar) bersifat pencahar (laksativa), sehingga kerap digunakan sebagai obat urus-urus. Nira segar juga baik sebagai bahan campuran (pengembang) dalam pembuatan roti.

Kolang-kaling

Buah aren (dinamai beluluk, caruluk dan lain-lain) memiliki 2 atau 3 butir inti biji (endosperma) yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Buah yang muda intinya masih lunak dan agak bening. Buah muda dibakar atau direbus untuk mengeluarkan intinya, dan kemudian inti-inti biji itu direndam dalam air kapur beberapa hari untuk menghilangkan getahnya yang gatal dan beracun. Cara lainnya, buah muda dikukus selama tiga jam dan setelah dikupas, inti bijinya dipukul gepeng dan kemudian direndam dalam air selama 10-20 hari. Inti biji yang telah diolah itu, diperdagangkan di pasar sebagai buah atep (buah atap) atau kolang-kaling.
Kolang-kaling disukai sebagai campuran es, manisan atau dimasak sebagai kolak. Teristimewa sebagai hidangan berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Bioethanol

Indonesia sempat dituding sebagai biang kerok global warming saat banyak kebakaran hutan terjadi. Banjir tak terelakkan. Ekosistem fauna pun tak lagi lestari. Bahkan ada temuan baru yang menyatakan bahwa kadar nitrous oxide (N2O) yang dihasilkan oleh biofuel atau biodiesel dari kanola, tebu, kedelai, maupun jagung justru dapat memperparah efek global warming. Selain itu produksi yang dihasilkan jauh lebih sedikit daripada bahan yang digunakan. Jagung memproduksi bioetanol sebanyak 6.000 liter per hektar per tahun, singkong 2.000 liter, biji sorgum 4.000 liter, sedangkan jerami padi, dan ubijalar 7.800 liter. Ada tanaman yang lebih potensial dan produktif dibanding lainnya, yakni pohon aren atau enau, yang ternyata banyak tumbuh di Indonesia.
Aren memproduksi 40.000 liter ethanol per hektar per tahun.

Produk lain

Sebagaimana nipah dan rumbia, daun pohon enau juga biasa digunakan sebagai bahan atap rumah rakyat. Pucuk daunnya yang masih kuncup (janur) juga dipergunakan sebagai daun rokok, yang dikenal pasar sebagai daun kawung. Lembar-lembar daunnya di Jawa Barat biasa digunakan sebagai pembungkus barang dagangan, misalnya gula aren atau buah durian. Lembar-lembar daun ini pun kerap dipintal menjadi tali, sementara dari lidinya dihasilkan barang anyaman sederhana dan sapu lidi.
Seperti halnya daun, ijuk dari pohon enau pun dipintal menjadi tali. Meski agak kaku, tali ijuk ini cukup kuat, awet dan tahan digunakan di air laut. Ijuk dapat pula digunakan sebagai bahan atap rumah, pembuat sikat dan sapu ijuk. Dari pelepah dan tangkai daunnya, setelah diolah, dihasilkan serat yang kuat dan tahan lama untuk dijadikan benang, tali pancing dan senar gitar Batak.
Batangnya mengayu di sebelah luar dan agak lunak berserabut di bagian dalam atau empulurnya. Kayunya yang keras ini dipergunakan sebagai papan, kasau atau dibuat menjadi tongkat. Empulur atau gumbarnya dapat ditumbuk dan diolah untuk menghasilkan sagu, meski kualitasnya masih kalah oleh sagu rumbia. Batang yang dibelah memanjang dan dibuang empulurnya digunakan sebagai talang atau saluran air.Dari akar dihasilkan serat untuk bahan anyaman, tali pancing atau cambuk.

Keuntungan Tanaman Aren

Selain itu, tanaman jenis palma ini memiliki segudang kelebihan yang tak tertandingi. Aren bisa tumbuh subur di tengah pepohonan lain dan semak-semak, di dataran, lereng bukit, lembah, dan gunung hingga ketinggian 1.400 meter dari permukaan laut, jadi tak perlu membabat hutan. Selain itu, akarnya yang bisa mencapai kedalaman 6–8 meter ini bisa menahan erosi, serta sangat efektif menarik dan menahan air. Tidak seperti penanaman sawit sebagai komoditi ternyata menimbulkan permasalahan yang tak kalah pelik. Sawit dan tebu terlalu manja untuk ditanam pada lahan, karena memerlukan perlakuan khusus, pun tak mau berbaur dengan tanaman lain. Akibatnya, pembabatan dan pembakaran hutan demi membuka lahan sawit membabi buta, sehingga justru menyebabkan emisi karbon besar-besaran.
Keuntungan lain, tanaman yang notabene merajai tanah Indonesia ini tidak membutuhkan pemupukan dan tidak terserang hama ataupun penyakit yang mengharuskan penggunaan pestisida sehingga aman bagi lingkungan. Tidak seperti singkong dan tebu yang dipanen 3-4 bulan sekali, aren dapat dipanen sepanjang tahun. Menurut Kepala Bagian Jasa Iptek Puslit kimia LIPI, Dr. Hery Haeruddin, dalam satu hektar tanah bisa ditanami 75-100 pohon. Satu pohon aren mampu menghasilkan hingga 20 liter nira per hari. Sedangkan untuk menghasilkan satu liter bioetanol diperlukan sekitar 15 liter nira. Tanaman jenis palma ini produktif hingga 6-8 tahun.

SEMOGA BERMANFAAT !!!!!




Senin, 17 Januari 2011

Proses Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit

Limbah Kelapa Sawit dan Pemanfaatannya

Limbah kelapa sawit pada generasi pertama adalah limbah padat yang terdiri dari tandan kosong, pelepah, cangkang dan lain-lain. Sedangkan limbah cair yang terjadi pada in house keeping. Limbah padat dan limbah cair pada generasi berikutnya dapat dilihat pada gambar 3. Pada gambar tersebut terlihat bahwa limbah yang terjadi pada generasi pertama dapat dimanfaatkan dan terjadi limbah berikutnya. Pada gambar 4 dan tabel terlihat potensi limbah yang dapat dimanfaatkan, sehingga memiliki nilai ekonomis yang tidak sedikit. Salah satunya adalah potensi limbah dapat dimanfaatkan sebagai sumber unsur hara yang mampu menggantikan pupuk sintetis (urea, TSP dan lain-lain).

Tabel 1: Jenis, potensi dan pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit.



Limbah padat tandan kosong (TKS) merupakan limbah padat yang jumlahnya cukup besar yaitu sekitar 6 juta ton yang tercatat pada tahun 2004, namun pemanfaatannya masih terbatas. Limbah tersebut selama ini di bakar dan sebagian di tebarkan di lapangan sebagai mulsa. Persentasi tankos tehadapas TBS sekitar 20% dan setiap ton Tankos mengandung unsur hara N, P, K, dan Mg berturut-turut setara 3kg urea, 0,6 kg CIRP, 12 kg MOP, dan 2 kg kieserit. Dengan demikian dari satu unit PKS kapasitas olah 30 ton TBS/jam atau 600 ton TBS/hari akan menghasilkan pupuk N, P, K, Mg berturut-turut setara dengan 360 kg urea, 72 kg CIRP, 1.440 kg MOP, dan 240 kg kiserit. ( Lubis dan Tobing 1989 )



Minyak sawit sebagai bahan bakar alternatif (palm biodiesel )

Indonesia dan Malaysia adalah negara produsen utama minyak sawit di dunia juga telah mengembangkan biodiesel dari minyak sawit, tetapi pengembangan belum komersial. Di Indonesia, penelitian di lakukan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) medan dan telah berhasil mengembangkan biodiesel dari minyak sawit mentah (CPO), Refined Beleched Deodorised Palm Oil (RBDPO), dan fraksi-fraksinya seperti stearin dan olein serta minyak inti sawit.

Palm Biodiesel mempunyai sift kimia dan fisika yang sama dengan minyak bumi (petroleum diesel ) sehingga dapat digunakan langsung untuk mesin diesel atau dicampur dengan petroleum diesel. Namun, palm diesel memiliki keunggulan lain yaitu mengandung oksigen sehingga flash oint-nya lebih tinggi dan tidak mudah terbakar. Selain itu, palm biodiesel merupakan bahan bakar yang lebih bersih dan lebih mudah ditangani karena tidak mengandung sulfur dan senyawa benzene yang karsinogenik.

Pengembangan palm biodiesel berbahan baku minyak sawit terus dilakukan karena selain untuk mengantisipasi cadangan minyak bumi yang semakin terbatas, produk biodiesel termasuk produk yang bahn bakunya dapat diperbaharui dan ramah lingkungan. Disamping itu, produksi gas karbondioksida dari hasil pembakaran dapat di manfaatkan kembali oleh tanaman. Penggunaan palm biodiesel juga dapat mereduksi efek rumah kaca, polusi tanah, serta melindungi kelestarian perairan dan sumber air minum hal ini berhubungan dengan sifat Biodiesel yang dapat teroksigenasi relatif sempurna atau terbakar habis, nontoksik, dan dapat terurai secara alami.

Palm Biodiesel di buat dengan bahan baku minyak sawit( CPO) maupun produk turunannya atau minyak inti sawit(PKO). Produksi palm biodiesel dapat dilakukan melalui transesterifikasi minyak sawit dengan metaol. Proses ini lebih di anggap efisien dan ekonomis bila di bandingkan dengan cara esterifikasi hidrolisis dengan metanol.



SEMOGA BERMANFAAT !!!!!


Minggu, 16 Januari 2011

Proses Pengolahan Minyak Kelapa Sawit

Pengolahan Minyak dari Daging Buah
Brondolan buah (buah lepas) yang dibawa oleh fruit conveyor dimasukkan kedalam Digester atau peralatan pengaduk. Didalam alat ini dimaksudkan supaya buah terlepas dari biji. Dalam proses pengadukan (digester) ini digunakan uap air yang temperaturnya selalu dijaga agar stabil antara 800 - 900C. 
Setelah massa buah dari proses pengadukan selesai kemudian dimasukkan ke dalam alat pengepresan (scew Press) agar minyak keluar dari biji dan fibre. Untuk proses pengepresan ini perlu tambahan panas sekitar 10% s/d 15% terhadap kapasitas pengepresan. Dari pengepresan tersebut akan diperoleh minyak kasar dan apas serta biji.
Sebelum minyak kasar tersebut ditampung pada crude oil tank harus dilakukan pemisahan kandungan pasir sand trap yang kemudian dilakukan penyaringan ( vibrating screen ). Sedangkan ampas dan biji yang masih mengandung minyak ( oil sludge ) dikirim ke pemisahan ampas dan biji ( depericarper ).
Dalam proses penyarinngan minyak kasar pertsebut perlu ditambahkan air panas untuk melancarkan penyaringan minyak tersebut. Minyak kasar ( crude oil ) kemudian di pompa kedalam decenter guna memisahkan solid dan liquid. Pada fase cair yang berupa minyak air dan masa jenis ringan ditampung pada countnuous setting tank, minyak dialirkan ke oil tank dan pada fase berat ( sludge ) yang terdiri dari padatan terlarut ditampung kedalam sludge tank yang kemudian dialirkan ke sludge salanceparator untuk memisahkan minyaknya.
Proses Pemurnian Minyak

Minyak dari oil tank kemudian dialirkan ke oil purifer untuk memisahkan kotoran / solid yang mengandung kadar air. Kemudian melalui sarvo balance, maka minyak sawit dipompakan ke tangki timbun ( oil storege tank ).






Proses Pengolahan Inti Sawit
Ampas kempa yang terdiri dari biji dan serabut dimasukkan kedalam depericaper melalui cake brake conveyor yang dipanaskan dengan uap air agar sebagian kandungan air dapat diperkecil, sehingga press cake terurai dan memudahkan proses pemisahan. Pada depericaper terjadi proses pemisahan fibre dan biji. Pemisahan tejadi akibat perbedaan berat dan gaya isap blower. Biji tertampung pada nut silo yang dialiri dengan udara panas antara 600-800C selama 18-24 jam agar kadar iar turun dari sekitar 21% menjadi 4%.
Sebelum biji masuk kedalam nut craker terlebih dahulu diproses di dalam nut garding drum untuk dapat dipisahkan ukuran besar kecilnya biji yang disesuaikan denga fraksi yang ditentukan. Nut garding kemudian dialirkan ke nut craker sebagai alat pemecah. Masa biji pecah dimasukkan dalam dry seperator ( proses pemisahan debu dan cangkang halus ) untuk memisahkan cangkang halus, biji utuh dengan cangkang/inti. Masa cangkang bercampur inti di alirkan masuk ke dalam hydro cyclone untuk memisahkan inti dengan cangkang. Inti dialirkan masuk kedalam kernel drier untuk proses pengeringan sampai kadar air mencapai 7% dengan tingkat pengeringan 500, 600, dan 700C dalam waktu 14-16 jam. Selanjutnya guna memisahkan kotoran, maka dialirkan melalui winnowing kernel ( kernel storage ) sebelum di angkat dengan truk ke pabrik pemproses berikutnya.
Untuk mendapatkan mutu minyak CPO yang baik, maka mutu tandan yang di olah harus berdasarkan kriteria kematangan yang optimal.pada kondisi kandungan minyak dalam TBS relatif tinggi dengan kadar garam asam lemak bebas (FFA) yang rendah. Pada tandan buah yang masih mentah kandungan minyak CPO sangat rendah. Sedangkan bila TBS terlalu matang maka kualitas minyak menjadi rendah karena kadar asam lemak bebasnya tinggi. Untuk mendapatkan jumlah dan kualitas minyak CPO yang baik, maka di butuhkan di koordinasi yang baik antara permanen, pengawas lapangan, bagian fraksi dan staf pabrik. Tandan buah segar yang telah dipanen harus segera ditangani dan di usahakan secepatnya diproses dalam pabrik.

Proses Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit (Bersambung di halaman selanjutnya)



SEMOGA BERMANFAAT !!!!

Sabtu, 15 Januari 2011

PENGELOLAAN KELAPA SAWIT

Pengertian
Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar, sehingga banyak hutan dan perkebunan lama di konversi menjadi perkebunan kelapa sawit.Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah malaysia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, Pantai Timur Sumatra, Jawa, sulawesi, dan Kalimantan.
Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya, yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya lapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik. Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawitmentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.

Tahapan Pengolahan
Tandan buah segar (TBS) yang dipanen dikebun diangkut ke lokasi pabrik minyak sawit dengan menggunakan truk. Sebelum dimasukkan ke dalam Loading Ramp, tandan buah segar tersebut harus ditimbang terlebih dahulu pada jembatan penimbangan (weighing brigae). Perlu diketahui bahwa kualitas hasil minyak CPO yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh kondisi buah (TBS) yang diolah dalam pabrik, sedangkan proses pengolahan dalam pabrik hanya berfungsi menekan kehilangan didalam pengolahannya, sehingga kualitas hasil tidak semata-mata tergantung dari TBS yang masuk ke dalam pabrik. Secra garis besar diagram alir dari proses pengolahan kelapa sawit dan neraca material balance pengolahan kelapa sawit dapat dilihat pada gambar 1 dan 2 dibawah.
Informasi diagram alir tersebut sebagai berikut :


Perebusan
Tandan buah segar setelah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam lori rebusan yang terbuat dari plat baja berlubang-lubang (cage) dan langsung dimasukkan kedalam sterilizer, yaitu bejana perebusan yang menggunakan uap air yang bertekanan antara 2.2 sampai 3.0 Kg/cm2. Proses perebusan ini dimaksudkan untuk mematikan enzim-enzim yang dapat menurunkan kualitas minyak.
Disamping itu, itu juga dimaksudkan agar buah mudah lepas dari tandannya dan memudahkan pemisahan cangkang dan inti dengan keluarnya air dari biji. Proses ini biasanya berlangsung selama 90 menit dengan menggunakan uap air yang berkekuatan antara 280 sampai 290 Kg/ton TBS. Dengan proses ini dapat dihasilkan kondensat yang mengandung 0.5% minyak ikitan pada temperatur tinggi. Kondensat ini kemudian dimasukkan ke dalam Fat Pit. Tandan buah yang sudah di rebus dimasukkan ke dalam threser dengan menggunakan Hoisting Crane.
Perontokan Buah Dari Tandan
Pada tahap ini, buah yang masih melekat pada tandannya akan dipisahkan dengan menggunakan prinsip bantingan sehingga buah tersebut terlepas kemudian ditampung dan dibawa oleh Fit conveyor ke digester. Tujuannya untuk memisahkan brondolan (fruilet) dari tangkai tandan. Alat yang digunakan disebut threser dengan drum berputar (rotari drum threser). Hasil stripping tidak 100%, artinya masih ada berondolan yang melekat pada tangkai tandan, hal ini yang disebut dengan USB (Unstripped Bunch). Untuk mengatasi hal ini, maka dipakai sistem “Double Threshind”. Sistem ini bekerja dengan cara janjang kosong/EFB (Empty Fruit Bunch) dan USB yang keluar dari Thresher pertama, tidak langsung dibuang, tetapi masuk threser kedua yang selanjutnya EFB dibawa ketempat pembakaran (incinerator) dan dimanfaatkan sebagai produk sampingan.

Gambar 1. Diagram alir proses pengolahan kelapa sawit

Proses Pengolahan Minyak Kelapa Sawit (Bersambung dihalaman selanjutnya)



SEMOGA BERMANFAAT !!!!!

Kamis, 13 Januari 2011

Ekologi Industri Kelapa Sawit


Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Palmae. Tanaman tropis ini dikenal sebagai penghasil minyak sayur yang berasal dari Amerika. Brazil dipercaya sebagai tempat di mana pertama kali kelapa sawit tumbuh. Dari tempat asalnya, tanaman ini menyebar ke Afrika, Amerika Equatorial, Asia Tenggara, dan Pasifik Selatan. Benih kelapa sawit pertama kali yang ditanam di Indonesia pada tahun 1984 berasal dari Mauritius, Afrika. Perkebunan kelapa sawit pertama dibangun di Tanahitam, Hulu Sumatera Utara oleh Schadt (Jerman) pada tahun 1911.

Klasifikasi kelapa sawit adalah sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Keluarga : Palmaceae
Sub keluarga : Cocoideae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq


Varietas unggul kelapa sawit adalah varietas Dura sebagai induk betina dan Pisifera sebagai induk jantan. Hasil persilangan tersebut memiliki kualitas dan kuantitas yang lebih baik. Varietas unggul hasil persilangan antara lain: Dura Deli Marihat (keturunan 434B x 34C; 425B x 435B; 34C x 43C), Dura Deli D. Sinumbah, Pabatu, Bah Jambi, Tinjowan, D. Ilir (keturunan 533 x 533; 544 x 571), Dura Dumpy Pabatu, Dura Deli G. Bayu dan G Malayu (berasal dari Kebun Seleksi G. Bayu dan G. Melayu), Pisifera D. Sinumbah dan Bah Jambi (berasal dari Yangambi), Pisifera Marihat (berasal dari Kamerun), Pisifera SP 540T (berasal dari Kongo dan ditanam di Sei Pancur). Beberapa ciri yang dapat digunakan untuk menandai kecambah yang dikategorikan baik dan layak untuk ditanam antara lain sebagai berikut:
  • Warna radikula kekuning-kuningan, sedangkan plumula keputih-putihan
  • Ukuran radikula lebih panjang daripada plumula
  • Pertumbuhan radikula dan plumula lurus dan berlawanan arah
  • Panjang maksimum radikula 5 cm, sedangkan plumula 3 cm.
Bagian yang paling utama untuk diolah dari kelapa sawit adalah buahnya. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. 
Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin. Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. 

Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90°C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur. Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.

Produk minyak kelapa sawit sebagai bahan makanan mempunyai dua aspek kualitas. Aspek pertama berhubungan dengan kadar dan kualitas asam lemak, kelembaban dan kadar kotoran. Aspek kedua berhubungan dengan rasa, aroma dan kejernihan serta kemurnian produk. Kelapa sawit bermutu prima (SQ, Special Quality) mengandung asam lemak (FFA, Free Fatty Acid) tidak lebih dari 2 % pada saat pengapalan. Kualitas standar minyak kelapa sawit mengandung tidak lebih dari 5 % FFA. Setelah pengolahan, kelapa sawit bermutu akan menghasilkan rendemen minyak 22,1 % - 22,2 % (tertinggi) dan kadar asam lemak bebas 1,7 % - 2,1 % (terendah).

Ekologi Industri

Ekologi Industri adalah bidang ilmu yang difokuskan pada dua tujuan yaitu peningkatan ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan. 

Pada konsep ekologi industri, sistem industri dipandang bukan sebagai suatu sistem yang terisolasi dari sistem dan lingkungan disekelilingnya, melainkan merupakan satu kesatuan. Didalam sistem ini dioptimalkan siklus material, dari mulai bahan mentah hingga menjadi bahan jadi, komponen, produksi dan pembuangan akhirFaktor-faktor yang dioptimalkan termasuk sumber daya, energi dan modal.

Konsep dalam Ekologi Industri mengadaptasi analogi ekosistem alam kedalam sistem industri. Tingkatan-tingkatan organisme dalam ekosistem saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistem yang menunjukkan kesatuan. Tingkatan organisasi dalam dunia industri adalah industri tunggal, industri kawasan, industri global dan ekosistem industri. Antara komunitas industri dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen, konsumen, dan dekomposer/pengurai.

Ekologi industri adalah suatu yang ditandai dengan banyak ragam kelompok hubungan antar produksi dan konsumsi. Dari perspektif suatu institusi, keragaman ini dapat dikelompokkan berdasarkan batasan sistem. Salah satu bagian dari ekologi industri adalah simbiosis industri. Pada prinsipnya ekologi industri berhubungan dengan aliran bahan / material dan energi pada sistem dalam skala berbeda, mulai dari produksi ke pabrik hingga ke tingkat masional dan tingkat global. Simbiosis (hubungan yang saling menguntungkan / mutually benefial relationship) industri difokuskan pada aliran-aliran jaringan bisnis dengan organisasi lainnya baik dalam peta ekonomi local maupun regional sebagai suatu pendekatan ekologi dari pembangunan industri yang berkelanjutan.

Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit. Berkembangnya sub‐sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif, terutama kemudahan dalam hal perijinan dan bantuan subsidi investasi untuk pembangunan perkebunan rakyat dan dalam pembukaan wilayah baru untuk areal perkebunan besar swasta. Dengan jumlah perkebunan kelapa sawit yang sangat besar itu diperlukan suatu pengolahan yang besar pula agar mendapatkan hasil olahan yang maksimal.

Aplikasi Zero Emissions yang termasuk pada ekologi industry kelapa sawit berarti meningkatkan daya saing dan efisiensi karena semua sumber daya digunakan secara maksimal yaitu memproduksi lebih banyak dengan bahan baku yang lebih sedikit, oleh sebab itu zero emissions dapat dipandang sebagai suatu standar efisiensi. kegiatan kebun dan pabrik pengolahan kelapa sawit merupakan kegiatan yang sangat memungkinkan penerapan konsep zero emissions ini akan menyebabkan perubahan pola industri-alisasi menjadi :
  • Lebih peduli lingkungan (eko product) dengan mengefisiensikan penggunaan bahan baku dan memaksimalkan daya gunanya, secara otomatis, emisi gas, limbah padat dan cair kelingkungan akan berkurang. 
  • Terciptanya lapangan kerja baru : melalui proses siklus, limbah suatu proses menjadi input bagi proses lainnya dan sterusnya. Sehingga akan terjadi ekspansi dan diversifikasi industri, dimana dampaknya adalah munculnya kebutuhan tenaga dan terciptanya lapangan kerja baru.
Keuntungan perusahaan meningkat; pergeseran paradigm dari share – holders menjadi stake – holders mengakibatkan suatu produk akan dikonsumsi jika memenuhi norma yang dipakai oleh konsumen. Penerapan konsep zero emissions akan meningkatkan daya saing produk tersebut, karena konsumen hijau akan memilih memakai produk – produk ramah lingkungan.

Konsep zero emissions, yang hakekatnya sejalan dan merupakan kelanjutan pelaksanaan program produksi bersih yang merupakan bukti pengenjawantahan pembangunan berwawasan lingkungan. Produksi bersih adalah suatu strategi pengelolaan lingkungan ang bersifat preventif dan terpadu yang perlu diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan daur hidup produksi dengan tujuan untuk mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan.

Produksi bersih diperlukan sebagai cara untuk mengharmonisasikan upaya perlindungan lingkungan dengan kegiatan pembangunan atau pertumbuhan ekonomi, karena penerapan produksi bersih dapat :
  1. Memberikan peluang keuntungan ekonomi, sebab didalam produksi bersih terdapat strategi pencegahan pencemaran pada subernya ( source reduction dan in process recycling) yaitu mencegah terbentuknya limbah secara dini, yang dapat mengurangi biaya investasi untuk pengolahan dan pembuangan limbah atau upaya perbaikan lingkungan. 
  2. Mencegah terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan melalui pengurangan limbah, daur ulang, pengolahan dan pembuangan yang aman. 
  3. Memelihara dan memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang melalui penerapan proses produksi dan penggunaan bahan baku dan energy yang lebih efisien ( koservasi sumber daya, bahan baku dan energy). 
  4. Mendukung prinsif “environmental equity” dalam rangkaa pembanguan yang bekelanjutan dimana kita harus menjaga/ memelihara lingkungan agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang. 
  5. Mencegah atau memperlambat terjadinya degradasi lingkungan dan memanfaatkan sumber daya alam melalui penerapan daur ulang limbah didalam proses, yang pada akhirnya menuju upaya konservasi sumber daya untuk mencapai tujuan pembangunan yang bekelanjutan. 
  6. Memelihara ekosistem lingkungan. 
  7. Memperkuat daya saing produk di pasar internasional.
Staregi produksi bersih mempunyai arti yang sangat luas karena didalamnya termasuk upaya pencegahan, pencemaran melalui pilihan jenis proses yang akrab lingkungan, minimasi limbah, analisis daur hidup, dan teknologi bersih. Dengan adanya perkembangan dan perubahan cara pandang dalam pengelolaan limbah, konsep produksi bersih menjadi pilihan kebijaksanaan pemerintah untuk mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Untuk mengaplikasikan konsep produksi bersih, stategi pencegahan pencemaran perlu diprioritaskan dalam upaya mewujudkan industry berwawasan lingkungan, tetapi bukanlah merupakan satu – satunya strategi yang diterapkan. strategi lain seperti program daur ulang, pengolahan dan pembuangan limbah tetap diperlukan sehingga dapat saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

Pembahasan
Pada bagan konsep ekologi industry dapat dijelaskan sebagai berikut :
  1. TBS (tandan buah segar) dari perkebunan dibawa ke pabrik untuk diolah. TBS mengalami proses perontokan buah dan menghasilkan TBK dan buah sawit. Selanjutnya TBK mengalami proses pengolahan didalam industry energy yang menghasilkan bioethanol dan biodiesel serta digunakan sebagai media tanam jamur agar mempunyai nilai ekonomis. Tentu saja dari pengelolaan tersebut TBK menghasilkan limbah yang masih dapat diolah menjadi pupuk dan dapat dipergunakan pada perkebunan sawit tersebut.
  2. Buah Sawit Mengalami proses pemerasan/penekanan sehingga menghasilkan CPO kotor lalu dilanjutkan dengan proses pembersihan untuk mendapatkan CPO bersihnya. Dari proses pembersihan inilah limbah cair didapatkan lalu diolah pada sistem pengolahan limbah. Dari proses pemerasan didapat 2 bentuk bagian buah kelapa sawit yaitu :
  • Biji sawit yang merupakan bagian dalam dari buah sawit. Pada biji sawit tersebut dilakukan pengolahan hidrosiklon yang berfungsi memisahkan cangkang dan inti dari buah sawit. Cangkang sawit yang sudah terpisah dari inti sawit dapat dijadikan bahan bakar boiler dari pabrik pengolahan sawit itu sendiri sehingga dapat menghemat biaya produksi, atau dapat juga dijadikan asap cair sebagai bahan pengawet alami bagi bahan pangan. Sedangkan palm kernel/Inti sawit dapat dijadikan PKO (Palm Kernel Oil) Sebagai Bahan baku atau campuran dari kosmetik, keperluan farmasi, lilin dan sbb, tentunya setelah melalui proses pengolahan didalam industry kimia dan PKM (Palm Kernel Milf) dapat dijadikan makanan ternak. Kotoran ternak itu sendiri dapat dijadikan biogas sebagai bahan bakar pada industry pangan dan sisa dari pembuatan biogas tersebut dapat dijadikan pupuk organic. 
  • Serat dari sawit adalah bagian luar dari buah sawit/penutup dari biji sawit. Serat sawit dapat juga dijadikan bahan bakar boiler dan dijadikan bahan pakan ternak, kotoran ternak menjadi biogas. Selanjutnya biogas digunakan sebagai bahan bakar pada industry pangan.
Pada akhirnya melalui penerapan konsep produksi bersih maupun zero emissions diharapkan terjadi efisiensi dalam proses produksi yang senantiasa memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Dalam kondisi kerisis moneter seperti saat ini, sector agroindustri yang merupakan salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi dapat lebih berdaya saing dalam menghadapi era perdagangan bebas.

Kegiatan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit merupakan kegiatan yang sangat memungkinkan untuk menerapkan konsep zero emissions, karena hampir semua limbah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali. Oleh karena itu pemerintah dewasa ini sangat memperhitungkan dan memperioritaskan penerapan produksi bersih pada komoditi kelapa sawit. Karena dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat dunia tentang pelestarian lingkungan hidup serta adanya persaingan pada pasar global, maka mutu produk tidak hanya dilihat dari aspek fisik dan kimia saja, tetapi juga aspek lingkungannya. 
Eco products akan menjadi parameter baru pada mutu produk dimasa depan. Pada prinsipnya persyaratan untuk mendapatkan eco products adalah proses proses produksi yang menerapkan:
  • Minimalisasi limbah
  • Pemanfaatan kembali / ecycle nutrisi
  • Penggunaan energy terbarukan ( biomassa)
Dengan menerapkan konsep ekologi industry di atas diharapkan dapat mengurangi tumpukan limbah dari proses pengolahan kelapa sawit, juga dapat menghemat biaya produksi dan bahkan dapat menambah pemasukan dengan menjual juga produk turunan dari limbah kelapa sawit.

SEMOGA BERMANFAAT !!!!!